Posts

Showing posts from November, 2017

Kisah: Bapak dan Anak

Malam itu entah pukul berapa. Aku sedang memesan minuman di sebuah stand minum di pinggir jalan dekat sebuah universitas, bersama temanku. Temanku yang baik, semoga kamu selalu sehat dan makin baik sampai hari ini. Setelah memesan minum, kami berjalan santai sambil menunggu angkot. Tidak banyak pembicaraan saat itu, kecuali masing-masing kami saling mencoba menghibur. "Gakpapa belum rejeki" "Iya, kapan-kapan nyobak lagi" "Ayo, dollar hunters!!" Kami tertawa. Ini tawa-tawa yang keluar dari mulut saja, tapi senangnya tidak masuk ke hati. Hahaha saja. Eh, sudah ada angkot, kami masuk mencari tempat duduk di angkot yang tadi menepi. Karena mungkin juga lelah, kami diam saja di angkot waktu itu. Sambil menghabiskan minuman yang tadi kami beli. Masih kecewa sama olym yang kalah, aduh lucu kalau diingat. Angkot yang kami tumpangi sudah penuh. Tak lama berangkat, ada seorang bapak dan anaknya yang menghentikan angkot itu. Bapak itu meminta ikut. Tak ...

Aku Belum Hidup

Jika mati adalah tujuan, maka hidup itu perjalanan. Sebenarnya tidak. Kalau aku boleh berpendapat, mati itu peralihan. Pintu. Pergantian. Masih bagian dari perjalanan. Atau ujungnya perjalanan. Sebab yang kita tuju adalah setelah kematian. Perjalanan kita tak berhenti sampai mati saja. Hidup bagiku sebuah pencarian dan penantian. Penantian untuk hidup yang sebenarnya. Pencarian untuk arti hidup yang sekarang ini kita titih. Menanti lebih mudah dilakoni dibanding mencari. Sebab apa apa yang kita isikan dalam fase menanti ini bersifat bebas tergantung dengan apa-apa yang kita inginkan. Terserah hidupmu mau kau gunakan untuk apa. Napasmu mau kau lakoni dengan berbuat apa. Waktu tunggumu mau kau habiskan dengan bagaimana. Sebab kausalitanya masih terlihat nanti. Tuhan menciptakan hidup dengan sistem 'bayar belakangan'. Mencari. Hidup sebagai pencarian ini yang sulit diselesaikan. Sebab mencari berarti mengharuskan kita untuk mendapatkan sesuatu. Untuk kita bisa berhenti mencar...

Kisah: Sebuah Cerita Kejujuran

Kejujuran. Pada dunia yang semakin tua ini, memang tidak hanya bensin dan beras yang semakin mahal. Tapi juga sifat kemoralitasan. Salah satunya kejujuran. Sebab itulah jujur di pikiranku tergambar seperti mutiara di dasar laut. Tak mudah dilihat-perlihatkan nan mahal harganya. Sekali terlihat, siapapun yang terbuka 'matanya' akan kagum. Itulah hukum barang langka di dunia. Mungkin di luar sana masih banyak orang seperti itu, hanya saja yang bertemu denganku sampai saat ini masih beberapa. Ya semoga saja begitu. Entah dia orang jujur keberapa yang masuk dalam listku, maksudku, yang pernah kutemui sampai sejauh ini. Laki-laki sebayaku ini memang terlihat berbeda dengan teman laki-lakiku pada umunya. Dia seorang pendiam. Pendiam yang begitu lugu. Aku mengenalnya sejak ia bekerja pada toko grosiran pakdeku. Sifat jujur yang jatuh padanya tak serta merta kusimpulkan sendiri. Melainkan banyak cerita dari budeku. Setiap pagi, setiap kali ia datang ke tempat kerja, laki-laki ya...

Kisah : Cerita di atas Becak

Entah apa yang membuatku begitu ingin naik becak malam itu. Padahal jarak ke tempat yang ku tuju tidak juga jauh. Sudah lama juga gak naik becak, coba deh . Batinku. Nah kebetulan, dekat dari tempatku berdiri ada bapak tukang becak mangkal. Dari pertama kusapa orangnya sangat ramah, wajahnya begitu sumringah. Cocok buat aku yang senang tanya-tanya. "Bapak sudah lama nggeh disini?" "Sudah 25 tahun mbak" "Oh sudah lama berarti pak ya hehe" Perbincangan kami terus mengalir. Malam itu terangkumlah perjalanan hidupnya. "Saya kelahiran 61 mbak" Kalau dihitung usianya lebih dari 55 tahun "Wah gak keliatan pak nggeh" "Saya tampangnya nakal, jadi gak keliatan mbak hehehe" Aku menolehnya, wajahnya menggambarkan sesuatu tetap dalam tawa yang pecah. "Saya menikah tiga kali mbak, yang pertama orang sini, yang kedua orang banyuwangi, yang sekarang orang madura." Dalam ucapannya yang ini, aku artikan nada ucap...