Kisah: Sebuah Cerita Kejujuran

Kejujuran. Pada dunia yang semakin tua ini, memang tidak hanya bensin dan beras yang semakin mahal. Tapi juga sifat kemoralitasan. Salah satunya kejujuran.
Sebab itulah jujur di pikiranku tergambar seperti mutiara di dasar laut. Tak mudah dilihat-perlihatkan nan mahal harganya. Sekali terlihat, siapapun yang terbuka 'matanya' akan kagum. Itulah hukum barang langka di dunia.
Mungkin di luar sana masih banyak orang seperti itu, hanya saja yang bertemu denganku sampai saat ini masih beberapa. Ya semoga saja begitu.
Entah dia orang jujur keberapa yang masuk dalam listku, maksudku, yang pernah kutemui sampai sejauh ini.
Laki-laki sebayaku ini memang terlihat berbeda dengan teman laki-lakiku pada umunya. Dia seorang pendiam. Pendiam yang begitu lugu.
Aku mengenalnya sejak ia bekerja pada toko grosiran pakdeku. Sifat jujur yang jatuh padanya tak serta merta kusimpulkan sendiri. Melainkan banyak cerita dari budeku.

Setiap pagi, setiap kali ia datang ke tempat kerja, laki-laki yang dalam nama jawa berarti bulan itu selalu menunjukkan terlebih dahulu berapa uang yang ia bawa dari rumah. Betul, ia menunjukkan uang sakunya. Tanpa ada yang meminta. Sepele, tapi itu menarik simpati bude pakdeku. Mungkin kalian bisa mengira-ira sendiri apa maksudnya. Karena itu pakdeku percaya padanya. Kerap kali untuk urusan yang berkaitan dengan keuangan pakde sering menyuruhnya. Bilapun nanti ada kembalian uang seratus perak pun dia akan kembalikan. Ya, memang jujur tidak hanya soal uang dan materi. Tapi itulah contoh konkret yang paling mudah dijadikan contoh pada zaman kacau sekarang ini. Meskipun jelas yang paling utama adalah jujur kepada diri sendiri. Jujur jenis inilah yang menjadi refleksi jenis jujur-jujur yang lain. Juga jujur jenis inilah yang paling susah dilakoni. Sebab ini menyangkut personalitas seseorang sendiri-sendiri.
Kenapa seseorang kerap sifat-sikapnya berubah-ubah? Kenapa kelakuan kita kerap berbeda sesuai tempat dan orang-orang dimana kita berada? Kenapa kita sering menjelas-jelaskan siapa kita kepada orang-orang baru? Jujur kepada diri sendiri kita masih perlu diikutkan remidial rupanya.

Oh iya aku teringat sesuatu tentang temanku yang tadi, pernah suatu kali saat hendak mengurus surat-surat di kantor desa, kantor koramil, ibu menyuruhnya untuk mengantarku. Karena tidak ada yang bisa selain dia saat itu.
Bergegas dia mengambil motor untuk mengantarku. Itu perbincangan pertama dan terakhirku dengannya sampai tulisan ini kubuat. Kembali lagi, saat dia hendak mengantarku.
Ya Tuhan, kalian tahu apa yang dia  ucapkan pada ibuku saat hendak berangkat?

"Bude, permisi mbaknya tak bonceng  saya nggeh"
Aku cuma bisa hehehe dengan menautkan alis. Kalian paham kan maksud ekspresi itu.


Ya begitu itu contoh sikap lugunya. Lelaki perawakannya tinggi kurus, terakhir ketemu rambutnya dicat warna merah. Aku selalu ingin mengorek lebih jauh kisahnya, hanya saja sikapnya yang pendiam membuat perbincangan terpantik singkat saja. Sejauh ini yang aku tahu dia tinggal bersama pakdenya, ibunya pergi menjadi TKW, dia lulusan Madrasah Aliyah Kejuruan, background yang sama denganku. Hanya saja, dari yang aku dengar menurut penuturannya, dia tidak terlalu menyukai bidang itu.

Mungkin aku lupa cerita-cerita lugunya yang lain, atau bukti kalau dia seorang yang jujur (setidaknya menurut penilaianku sampai sekarang), aku memang tidak ingat semua. Tidak, karena bukan itu yang ingin aku ceritakan sebenarnya. Bukan tentang personalitas dirinya.
Tapi arti jujurnya. Iya. Jujur begitu mahal harganya. Saat kaum intelektual pandai dalam visualisasi lisannya, jujur kadang hanya jadi cabai yang terselip di gigi. Menempel di dalam mulut, tapi tidak ditelan. Berbusa diucapkan, sedikit sekali dicerminkan dalam perbuatan. Kenapa kaum intelektual? Kaum ini maksudku adalah kaum yang berilmu. Jangan berpikiran terkubang di kalangan akademisi maupun orang-orang berdasi saja. Tapi orang-orang berilmu di masing-maasing bidangnya. Penulis, penyair, pelukis, pendebat dan apa saja. Sebab apa? sebab pada kalangan orang-orang berilmu, begitu mudah kebohongan meracuni mereka. Ya karena saking banyaknya yang mereka tahu. Begitu, rapuhlah tembok jujurnya, terutama untuk mengelabuhi orang-orang yang ilmunya tidak sebanding dengan mereka. Terutama kalangan intelektual yang otaknya lebih pandai dari hatinya.Sebagian besar kembali lagi ke cerita dompet dan tuannya.



Laki-laki itu, entah bagaimana kabarnya kali ini, semoga sehat dan sifat jujurnya tetap menemaninya sampai tua.
Jujur yang tak pernah diumbar itulah jujur yang paling jujur. 


Kota yang hampir tidak jujur, 02 November 2017

Comments

Popular posts from this blog

Membaca

Aku Belum Hidup

Menyoal Kita yang Berbeda