Kisah: Bapak dan Anak
Malam itu entah pukul berapa. Aku sedang memesan minuman di sebuah stand minum di pinggir jalan dekat sebuah universitas, bersama temanku. Temanku yang baik, semoga kamu selalu sehat dan makin baik sampai hari ini.
Setelah memesan minum, kami berjalan santai sambil menunggu angkot. Tidak banyak pembicaraan saat itu, kecuali masing-masing kami saling mencoba menghibur.
"Gakpapa belum rejeki"
"Iya, kapan-kapan nyobak lagi"
"Ayo, dollar hunters!!"
Kami tertawa. Ini tawa-tawa yang keluar dari mulut saja, tapi senangnya tidak masuk ke hati. Hahaha saja.
Eh, sudah ada angkot, kami masuk mencari tempat duduk di angkot yang tadi menepi.
Karena mungkin juga lelah, kami diam saja di angkot waktu itu. Sambil menghabiskan minuman yang tadi kami beli.
Masih kecewa sama olym yang kalah, aduh lucu kalau diingat.
Angkot yang kami tumpangi sudah penuh. Tak lama berangkat, ada seorang bapak dan anaknya yang menghentikan angkot itu.
Bapak itu meminta ikut. Tak apa walau berdesakan katanya.
Di daerahku angkot memang susah kalau sudah malam. Mungkin karena bapak itu membawa anak kecil si pak sopir membawanya juga.
Oh iya, bapak itu duduk dibawah, bukan di kursi angkot. Karena memang sudah terduduki semua. Seingatku bapak di sebelahku menawarinya duduk di tempatnya, tapi bapak itu tidak mau.
Di sebelahnya seorang wanita juga menawarinya duduk tapi bapak itu tidak mau.
"Mbaknya baik pak yo" Anak gadisnya mengomentari tawaran mbak yang tadi.
Si bapak tersenyum.
"Permisi pak, kataku." Bapak itu tersenyum. Dan mengisyaratkan tangan dan raut wajah yang artinya "iya gakpapa, tenang saja"
Semua orang di angkot itu diam. Tapi gadis kecil bersama bapak tadi senang bertanya dan bercerita. Lucu sekali. Dia membicarakan jalan, lampu merah, nama nama gedung dan entah apalagi, banyak. Seperti tak asing dengan tempat-tempat itu sebelumnya. Gadis itu juga bukan gadis pemalu seperti kebanyakan anak kecil yang kutemui lainnya. Kutebak ia sering berjumpa dengan banyak orang juga.
Aku yang sedang minum sedang di depanku ada anak kecil, jelas sungkan. Ku tawari minum tapi dia tidak mau. Ku ambilkan sekotak roti di ranselku. Konsumsi acara tadi belum sempat ku sentuh.
Ku berikan kepada si bapak, karena aku tahu anaknya pasti menolak. Bapak itu mengambilnya lalu berterima kasih.
"Nduk, dikasih mbak"
"Mbaknya baik pak yo" anak itu mengucapkan kalimat itu lagi. Aku senyum padanya.
Entah karena apa, setelah itu si bapak mulai bercerita. Dia bercerita kepada bapak di sampingku. Tapi jelas aku dengar. Satu angkot jelas juga mendengarnya.
Dia bercerita dengan bahasa jawa.
"Ibunya anak ini minggat pak, dari dia masih bayi sampai sekarang."
"Tapi gakpapa pak, Alhamdulillah dia sehat sampai sekarang"
"Mulai bayi merah dia saya bawa kemana-mana. Mengamen"
Bapak di sampingku senyum saja, sambil mengangguk.
Aku mencoba biasa, meski sebenarnya aku pasang telinga lekat lekat untuk mendengar ceritanya.
"Dulu kami berpindah pindah"
Si bapak memalingkan pandangannya padaku. Lalu melanjutkan ceritanya menghadap bapak sebelahku.
"Alhamdulillah sekarang saya bisa mengontrak di daerah Gadang."
Bapak itu menyebutkan nominalnya, tapi aku lupa.
"Gakpapa pak, buktinya tanpa perempuan saya bisa merawat anak saya sampai sekarang"
Bapak itu tersenyum, matanya berkaca-kaca.
Setelah itu angkot kembali sunyi, sebelum diramaikan lagi dengan celotehan gadis kecil tadi.
Aku masih diam. Mencoba mengartikan pertemuanku dengan bapak ini.
Setelah itu aku turun duluan, bersama temanku yang memang menunggu jemputan ayahnya di kosku.
Pikiranku masih ada di dalam angkot tadi. Cerita bapak dan anak yang kutemui masih kubawa sampai temanku sudah pulang dijemput, sampai tidur. Rasa kecewaku yang tadi ada entah menguap kemana.
Tuhan memang sangat romantis mengingatkan kita yang pelupa.
Kota penuh kisah, 12 November 2016
Setelah memesan minum, kami berjalan santai sambil menunggu angkot. Tidak banyak pembicaraan saat itu, kecuali masing-masing kami saling mencoba menghibur.
"Gakpapa belum rejeki"
"Iya, kapan-kapan nyobak lagi"
"Ayo, dollar hunters!!"
Kami tertawa. Ini tawa-tawa yang keluar dari mulut saja, tapi senangnya tidak masuk ke hati. Hahaha saja.
Eh, sudah ada angkot, kami masuk mencari tempat duduk di angkot yang tadi menepi.
Karena mungkin juga lelah, kami diam saja di angkot waktu itu. Sambil menghabiskan minuman yang tadi kami beli.
Masih kecewa sama olym yang kalah, aduh lucu kalau diingat.
Angkot yang kami tumpangi sudah penuh. Tak lama berangkat, ada seorang bapak dan anaknya yang menghentikan angkot itu.
Bapak itu meminta ikut. Tak apa walau berdesakan katanya.
Di daerahku angkot memang susah kalau sudah malam. Mungkin karena bapak itu membawa anak kecil si pak sopir membawanya juga.
Oh iya, bapak itu duduk dibawah, bukan di kursi angkot. Karena memang sudah terduduki semua. Seingatku bapak di sebelahku menawarinya duduk di tempatnya, tapi bapak itu tidak mau.
Di sebelahnya seorang wanita juga menawarinya duduk tapi bapak itu tidak mau.
"Mbaknya baik pak yo" Anak gadisnya mengomentari tawaran mbak yang tadi.
Si bapak tersenyum.
"Permisi pak, kataku." Bapak itu tersenyum. Dan mengisyaratkan tangan dan raut wajah yang artinya "iya gakpapa, tenang saja"
Semua orang di angkot itu diam. Tapi gadis kecil bersama bapak tadi senang bertanya dan bercerita. Lucu sekali. Dia membicarakan jalan, lampu merah, nama nama gedung dan entah apalagi, banyak. Seperti tak asing dengan tempat-tempat itu sebelumnya. Gadis itu juga bukan gadis pemalu seperti kebanyakan anak kecil yang kutemui lainnya. Kutebak ia sering berjumpa dengan banyak orang juga.
Aku yang sedang minum sedang di depanku ada anak kecil, jelas sungkan. Ku tawari minum tapi dia tidak mau. Ku ambilkan sekotak roti di ranselku. Konsumsi acara tadi belum sempat ku sentuh.
Ku berikan kepada si bapak, karena aku tahu anaknya pasti menolak. Bapak itu mengambilnya lalu berterima kasih.
"Nduk, dikasih mbak"
"Mbaknya baik pak yo" anak itu mengucapkan kalimat itu lagi. Aku senyum padanya.
Entah karena apa, setelah itu si bapak mulai bercerita. Dia bercerita kepada bapak di sampingku. Tapi jelas aku dengar. Satu angkot jelas juga mendengarnya.
Dia bercerita dengan bahasa jawa.
"Ibunya anak ini minggat pak, dari dia masih bayi sampai sekarang."
"Tapi gakpapa pak, Alhamdulillah dia sehat sampai sekarang"
"Mulai bayi merah dia saya bawa kemana-mana. Mengamen"
Bapak di sampingku senyum saja, sambil mengangguk.
Aku mencoba biasa, meski sebenarnya aku pasang telinga lekat lekat untuk mendengar ceritanya.
"Dulu kami berpindah pindah"
Si bapak memalingkan pandangannya padaku. Lalu melanjutkan ceritanya menghadap bapak sebelahku.
"Alhamdulillah sekarang saya bisa mengontrak di daerah Gadang."
Bapak itu menyebutkan nominalnya, tapi aku lupa.
"Gakpapa pak, buktinya tanpa perempuan saya bisa merawat anak saya sampai sekarang"
Bapak itu tersenyum, matanya berkaca-kaca.
Setelah itu angkot kembali sunyi, sebelum diramaikan lagi dengan celotehan gadis kecil tadi.
Aku masih diam. Mencoba mengartikan pertemuanku dengan bapak ini.
Setelah itu aku turun duluan, bersama temanku yang memang menunggu jemputan ayahnya di kosku.
Pikiranku masih ada di dalam angkot tadi. Cerita bapak dan anak yang kutemui masih kubawa sampai temanku sudah pulang dijemput, sampai tidur. Rasa kecewaku yang tadi ada entah menguap kemana.
Tuhan memang sangat romantis mengingatkan kita yang pelupa.
Kota penuh kisah, 12 November 2016
Comments
Post a Comment