Posts

Showing posts from February, 2018

Memacari Resiliensi: 2) Bouncing Back yang Seksi

Kusebut namanya Merah. Teman sedari kecil yang hampir dalam segala hal kami lakukan sama-sama. Hanya saja, hubungan kami terputus sejak SMA. karena dia dan aku memilih sekolah yang berbeda.Setelah masing-masing kami lulus, hubungan itu mulai terawat lagi. Aku dan Merah kembali lebih sering berkomunikasi. Ternyata tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk merubah seseorang.Merah tumbuh menjadi remaja yang emosinya naik turun. Banyak perubahan dari si Merah kecil yang aku kenal dulu. Perasaannya begitu tipis untuk menerima saran. Kehidupannya terlampau bebas dan untuk menasihatinya, dibutuhkan hati yang siap untuk berhadapan dengan egonya yang luar biasa. Jika di runut, cerita hidup Merah sungguh jauh memang dari kisah hidup ideal remaja gadis lainnya. Merah, besar tanpa sosok seorang ayah. Yang jika aku tidak salah, ayahnya pernah datang sewaktu kami kecil dan semenjak itu tidak ada yang tahu atau sekadar ingin tahu perihal ayah Si-Merah ini. Jika ditanya, barangkali rupa ayahnya pun,...

Memacari Resiliensi: 1) Rumusan Tersenyum Sesenggukan

Tidak ada hati yang begitu kuat untuk dapat menghindari setiap kesedihan. Namun tidak ada satu pun hati yang tidak berharga. Atas kehidupan yang kita kata sulit, atas permasalahan yang kita kata pelik, atas pilihan yang kita rasa berat juga atas pengharapan dan mimpi-mimpi yang harus kita tangguhkan. Semua hal yang menjadikan pundak ini berat, segala kondisi yang membuat kita tertunduk payah, sadarilah, kita  hanya perlu menerimanya dengan melapangkan hati dan juga dada. Diri ini sedang dipersiapkan menjadi manusia tangguh, dari segala rupa proses terbalut masa sulit itu. Bertahanlah, lalu dapatilah diri kita  yang baru. Diri kita sudah bukanlah diri kita yang dulu.Setiap proses yang kita dapati kini telah mengubahnya. Sebab itu, nikmatilah setiap proses ini. Ikuti setiap alurnya, buka mata dan sadarilah, terkadang, air mata adalah cerminan bahagia. Percayalah, semakin dalam kita terjatuh, semakin tinggi kita akan melejit selepas kita lalui semua itu .

Sebuah Usaha Berterimakasih

Kita diciptakan untuk selalu bersyukur. Tidak lupa untuk berterima kasih pada setiap jengkal perjalanan hidup yang luar biasa ini. Pada orang-orang yang kita temui. Pada kerikil yang kita tapaki. Mereka yang tak selalu sejalan dengan kita. Mereka yang kerap berbenturan dengan kita. Ucapannya, perbuatannya, apa saja yang kerap menjadikan kita untuk terus belajar melapangkan hati dan melapangkan dada. Berterimakasihlah. Bersyukurlah atas keberadaannya. Percayalah bahwa apa dan siapa saja yang kita temui, kemarin, hari ini dan seterusnya, adalah wujud dari bentuk pengharapan kita pada Tuhan. Bentuk dari doa yang selalu kita Aamiin-kan. Bagaimana bisa? Percayalah, dengan semua proses yang ada, Tuhan sedang mengabulkan doa-doa kita. Tuhan akan menjadikan kita manusia tabah, menjadikan kita manusia yang menghargai sesama, menjadikan kita mudah mengalah, menjadikan kita lapang menerima, berusaha sungguh-sungguh dalam segala upaya kita dan menjadikan kita manusia yang berharga. Bukankah yan...

(Kisah) 2: Mengecup Kepedihan Hati Orang-orang di Sekitar

Namanya Rudi. Teman dekatku yang tak berhasil aku peluk lukanya. Tak sempat aku kecup kepedihannya. Sekarang, Rudi telah bermetamorfosa ekstrim, sebuah haluan besar telah ia ambil, haluan sebagai bukti damai dirinya dengan kehidupan yang sedang ia perjuangkan.  "Setiap jiwa yang berpegang teguh dengan keyakinan tanpa ada keraguan pada hal itu, maka katakanlah dia telah sampai pada keyakinan paling tinggi yang dipilihnya. Dalam keyakinannya itu pula, setiap ia dijadikan percaya akan harapan dan kebaikan". Belum lama ini, aku bertemu dengan Rudi. Memaksa untuk dapat menemuinya kembali, begitulah mungkin lebih tepatnya. Sebuah acara opera menjadi pertemuan pertama sejak hampir dua tahun aku tak berkesempatan bertemu dengannya. Selama tidak ada kesempatan bersua, jujur, aku pun rajin mengunjungi rumah mayanya, disana ia terlihat bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.  Tapi, ada bagian yang mengatakan padaku, dia tidak sedang baik-baik saja saat aku menemuinya ...

1: Mengecup Kepedihan Hati Orang-orang di Sekitar

Image
Dok. Pribadi Lisan kita terlalu rentan mencipta kesalahan.Karena memang ia tercipta hanya untuk merasa di setiap permukaan saja. Jika boleh berandai, tak hanya rasa asin, manis, asam, atau pahit saja yang bisa terecap, kontrol kesalahan dari pengucapan kita yang dengan atau tanpa kita sadari berpotensi melukai  atau barang kali membuka lagi luka orang-orang di sekitar kita, akan berjalan baik, bila saja ada bagian dari papila lidah yang mampu menerjemahkan ucapan-ucapan kita yang mungkin saja salah terserap oleh indera fisik atau psikis orang lain. Jauh dari pendeknya sumbu pemikiranku, tumpulnya pengetahuanku, aku sadar Tuhan telah menciptakan manusia sebaik-baik bentuk dan adanya. Dibalik lidah kita yang licin, ada hati yang tercipta untuk menakar kesemuanya. Sungguh bijak mengenai bunyian "lidah tak bertulang", menjadi pengingat sepanjang masa. Bahwa lidah adalah pedang yang paling tajam untuk dapat melukai siapa saja, mengingatkan pula bahwa di sepanjang mas...