Memacari Resiliensi: 2) Bouncing Back yang Seksi
Kusebut namanya Merah. Teman sedari kecil yang hampir dalam segala hal kami lakukan sama-sama. Hanya saja, hubungan kami terputus sejak SMA. karena dia dan aku memilih sekolah yang berbeda.Setelah masing-masing kami lulus, hubungan itu mulai terawat lagi. Aku dan Merah kembali lebih sering berkomunikasi. Ternyata tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk merubah seseorang.Merah tumbuh menjadi remaja yang emosinya naik turun. Banyak perubahan dari si Merah kecil yang aku kenal dulu. Perasaannya begitu tipis untuk menerima saran. Kehidupannya terlampau bebas dan untuk menasihatinya, dibutuhkan hati yang siap untuk berhadapan dengan egonya yang luar biasa. Jika di runut, cerita hidup Merah sungguh jauh memang dari kisah hidup ideal remaja gadis lainnya. Merah, besar tanpa sosok seorang ayah. Yang jika aku tidak salah, ayahnya pernah datang sewaktu kami kecil dan semenjak itu tidak ada yang tahu atau sekadar ingin tahu perihal ayah Si-Merah ini. Jika ditanya, barangkali rupa ayahnya pun,...