Aku Belum Hidup
Jika mati adalah tujuan, maka hidup itu perjalanan. Sebenarnya tidak. Kalau aku boleh berpendapat, mati itu peralihan. Pintu. Pergantian. Masih bagian dari perjalanan. Atau ujungnya perjalanan. Sebab yang kita tuju adalah setelah kematian. Perjalanan kita tak berhenti sampai mati saja.
Hidup bagiku sebuah pencarian dan penantian. Penantian untuk hidup yang sebenarnya. Pencarian untuk arti hidup yang sekarang ini kita titih.
Menanti lebih mudah dilakoni dibanding mencari. Sebab apa apa yang kita isikan dalam fase menanti ini bersifat bebas tergantung dengan apa-apa yang kita inginkan. Terserah hidupmu mau kau gunakan untuk apa. Napasmu mau kau lakoni dengan berbuat apa. Waktu tunggumu mau kau habiskan dengan bagaimana. Sebab kausalitanya masih terlihat nanti. Tuhan menciptakan hidup dengan sistem 'bayar belakangan'.
Mencari. Hidup sebagai pencarian ini yang sulit diselesaikan. Sebab mencari berarti mengharuskan kita untuk mendapatkan sesuatu. Untuk kita bisa berhenti mencari. Sebelum kita benar-benar 'hidup' nanti, harus ada yang sudah kita kantongi.
Sampai tulisan ini kubuat tandanya waktu menantiku masih belum habis. Meski tidak ada yang pernah tahu, ibarat jam pasir bagian mana yang lebih berisi. Sisi atas atau sisi bawahnya. Ya, karena rahasia masih bahasa umur. Kalaupun boleh berbagi, akupun juga belum menemukan apa yang ku cari. Sebab itu aku masih merasa mati. Belum aku dapatkan jawaban yang berarti. Beruntungnya kalian yang saat membaca tulisan ini sudah menemukan jawaban dari kelahiran kalian. Kalau manusia boleh iri, aku iri. Tapi aku juga beruntung karena ada seseorang yang wejangannya selalu membuatku tak lelah mencari. Kalaupun tulisan bisa mencerminkan ekspresi penulisnya, aku sedang tersenyum saat ini.
"Dadio menungso sing ono isine, Nduk"
(Jadilah manusia yang ada isinya, Nduk)
Tempat pertama aku mulai mencari, 2017
Hidup bagiku sebuah pencarian dan penantian. Penantian untuk hidup yang sebenarnya. Pencarian untuk arti hidup yang sekarang ini kita titih.
Menanti lebih mudah dilakoni dibanding mencari. Sebab apa apa yang kita isikan dalam fase menanti ini bersifat bebas tergantung dengan apa-apa yang kita inginkan. Terserah hidupmu mau kau gunakan untuk apa. Napasmu mau kau lakoni dengan berbuat apa. Waktu tunggumu mau kau habiskan dengan bagaimana. Sebab kausalitanya masih terlihat nanti. Tuhan menciptakan hidup dengan sistem 'bayar belakangan'.
Mencari. Hidup sebagai pencarian ini yang sulit diselesaikan. Sebab mencari berarti mengharuskan kita untuk mendapatkan sesuatu. Untuk kita bisa berhenti mencari. Sebelum kita benar-benar 'hidup' nanti, harus ada yang sudah kita kantongi.
Sampai tulisan ini kubuat tandanya waktu menantiku masih belum habis. Meski tidak ada yang pernah tahu, ibarat jam pasir bagian mana yang lebih berisi. Sisi atas atau sisi bawahnya. Ya, karena rahasia masih bahasa umur. Kalaupun boleh berbagi, akupun juga belum menemukan apa yang ku cari. Sebab itu aku masih merasa mati. Belum aku dapatkan jawaban yang berarti. Beruntungnya kalian yang saat membaca tulisan ini sudah menemukan jawaban dari kelahiran kalian. Kalau manusia boleh iri, aku iri. Tapi aku juga beruntung karena ada seseorang yang wejangannya selalu membuatku tak lelah mencari. Kalaupun tulisan bisa mencerminkan ekspresi penulisnya, aku sedang tersenyum saat ini.
"Dadio menungso sing ono isine, Nduk"
(Jadilah manusia yang ada isinya, Nduk)
Tempat pertama aku mulai mencari, 2017
Comments
Post a Comment