Kisah : Cerita di atas Becak
Entah apa yang membuatku begitu ingin naik becak malam itu. Padahal jarak ke tempat yang ku tuju tidak juga jauh.
Sudah lama juga gak naik becak, coba deh. Batinku.
Nah kebetulan, dekat dari tempatku berdiri ada bapak tukang becak mangkal. Dari pertama kusapa orangnya sangat ramah, wajahnya begitu sumringah. Cocok buat aku yang senang tanya-tanya.
"Bapak sudah lama nggeh disini?"
"Sudah 25 tahun mbak"
"Oh sudah lama berarti pak ya hehe"
Perbincangan kami terus mengalir. Malam itu terangkumlah perjalanan hidupnya.
"Saya kelahiran 61 mbak"
Kalau dihitung usianya lebih dari 55 tahun
"Wah gak keliatan pak nggeh"
"Saya tampangnya nakal, jadi gak keliatan mbak hehehe"
Aku menolehnya, wajahnya menggambarkan sesuatu tetap dalam tawa yang pecah.
"Saya menikah tiga kali mbak, yang pertama orang sini, yang kedua orang banyuwangi, yang sekarang orang madura."
Dalam ucapannya yang ini, aku artikan nada ucapnya menggambarkan sebuah emosi: sedikit malu.
"Enak gitu pak, punya bannyak saudara"
Tawa kami kembali pecah. Aku berusaha membuat bapak itu nyaman dengan perbincangan ini.
"Oh iya, tadi istri bapak orang banyuwangi pak ya, jauh nggeh pak"
"Iya mbak"
"Kalau jodoh pasti ketemu pak nggeh"
Selepas itu, kami bercerita tentang satu kota di Banyuwangi yang kebetulan kami sama-sama tahu.
"Iya mbak, anak saya tiga perempuan semua"
"yang kedua meninggal"
"Anak bapak yang nomer dua?"
"Bukan istri saya yang nomor dua"
Aku diam menyimak. Si bapak tetap semangat bercerita, sesekali tawanya pecah. Begitu juga aku. Anehnya aku ngerasa dibalik tawa darinya, ada rindu yang dalam. Mungkin untuk istri keduanya. Mungkin saja.
Karena merasa sungkan, aku tidak lagi memancing perbincangan. Tapi mungkin bapak itu terlanjur membuka mulut sebab itu dia lanjutkan bercerita. Tapi tidak, sepertinya bapak itu memang sedang ingin bercerita. Maksudku bukan karena terlanjur tadi.
Setiap orang tentu dalam ceritanya masing-masing. Karena setiap dari kita diciptakan sebagai totok utama dalam kehidupan kita masing-masing. Malam itu, aku diingatkan kembali, bahwa sikap kita kepada orang lain haruslah lembut. Sebab mereka sudah memiliki kisah kersanya sendiri-sendiri.Sebab mereka memiliki masa lalunya sendiri-sendiri.
Sampailah aku di tempat yang dituju. Aku lihat wajahnya ringan sekali waktu itu.
"Mampirlah ke rumah kapan-kapan mbak."
Bapak itu menjelaskan alamat rincinya, terdengar tidak basa-basi.
Aku turun, sudah berjalan beberapa langkah, bapak itu masih menambahkan detail dari temapat tinggalnya.
"Nggeh kapan-kapan semoga ketemu lagi" tanyaku menyahuti, pak Rabil. Ah iya, namanya pak Rabil, terima kasih pak..
Kota bulan, 31 November 2017
Sudah lama juga gak naik becak, coba deh. Batinku.
Nah kebetulan, dekat dari tempatku berdiri ada bapak tukang becak mangkal. Dari pertama kusapa orangnya sangat ramah, wajahnya begitu sumringah. Cocok buat aku yang senang tanya-tanya.
"Bapak sudah lama nggeh disini?"
"Sudah 25 tahun mbak"
"Oh sudah lama berarti pak ya hehe"
Perbincangan kami terus mengalir. Malam itu terangkumlah perjalanan hidupnya.
"Saya kelahiran 61 mbak"
Kalau dihitung usianya lebih dari 55 tahun
"Wah gak keliatan pak nggeh"
"Saya tampangnya nakal, jadi gak keliatan mbak hehehe"
Aku menolehnya, wajahnya menggambarkan sesuatu tetap dalam tawa yang pecah.
"Saya menikah tiga kali mbak, yang pertama orang sini, yang kedua orang banyuwangi, yang sekarang orang madura."
Dalam ucapannya yang ini, aku artikan nada ucapnya menggambarkan sebuah emosi: sedikit malu.
"Enak gitu pak, punya bannyak saudara"
Tawa kami kembali pecah. Aku berusaha membuat bapak itu nyaman dengan perbincangan ini.
"Oh iya, tadi istri bapak orang banyuwangi pak ya, jauh nggeh pak"
"Iya mbak"
"Kalau jodoh pasti ketemu pak nggeh"
Selepas itu, kami bercerita tentang satu kota di Banyuwangi yang kebetulan kami sama-sama tahu.
"Iya mbak, anak saya tiga perempuan semua"
"yang kedua meninggal"
"Anak bapak yang nomer dua?"
"Bukan istri saya yang nomor dua"
Aku diam menyimak. Si bapak tetap semangat bercerita, sesekali tawanya pecah. Begitu juga aku. Anehnya aku ngerasa dibalik tawa darinya, ada rindu yang dalam. Mungkin untuk istri keduanya. Mungkin saja.
Karena merasa sungkan, aku tidak lagi memancing perbincangan. Tapi mungkin bapak itu terlanjur membuka mulut sebab itu dia lanjutkan bercerita. Tapi tidak, sepertinya bapak itu memang sedang ingin bercerita. Maksudku bukan karena terlanjur tadi.
Setiap orang tentu dalam ceritanya masing-masing. Karena setiap dari kita diciptakan sebagai totok utama dalam kehidupan kita masing-masing. Malam itu, aku diingatkan kembali, bahwa sikap kita kepada orang lain haruslah lembut. Sebab mereka sudah memiliki kisah kersanya sendiri-sendiri.Sebab mereka memiliki masa lalunya sendiri-sendiri.
Sampailah aku di tempat yang dituju. Aku lihat wajahnya ringan sekali waktu itu.
"Mampirlah ke rumah kapan-kapan mbak."
Bapak itu menjelaskan alamat rincinya, terdengar tidak basa-basi.
Aku turun, sudah berjalan beberapa langkah, bapak itu masih menambahkan detail dari temapat tinggalnya.
"Nggeh kapan-kapan semoga ketemu lagi" tanyaku menyahuti, pak Rabil. Ah iya, namanya pak Rabil, terima kasih pak..
Kota bulan, 31 November 2017
Comments
Post a Comment