Posts

Kehidupan dalam Lampu Motor yang Mati

Image
Hari itu, hari senin sehabis subuh. Bapak bersiap memanaskan mesin motor dan Ibu sibuk mengabsen satu persatu barang bawaanku. Maklum, pelupa. Dari barang kecil hingga barang penting seperti dompet dan tas pernah ketinggalan begitu saja. Hahaha.. Setelah dirasa semua beres, aku pun pamit dan bergegas berangkat. Ah, terkadang umur fisik ini terasa berjalan begitu cepat. Sepertinya baru kemarin pagi aku pamit untuk berangkat sekolah. Ritual cium tangan itu rasanya hanya pelengkap dan bagian dari rangkaian rutinitas minta uang saku saja. Sekarang, cium tangan itu maknanya dalam sekali. Cium tangan menjelma menjadi bentuk permintaan restu dari aku - a nak yang merantau dan jauh dari rumah pada orang tuanya , agar apa-apa yang diupayakan diluar sana sesuai dengan yang diharapkan. Tengah asyik memaknai ritual cium tangan tiba-tiba saja motorku tergelincir. Aduh, untung saja tidak sampai jatuh. Jalanan yang berbatu khas perkampungan memang menuntut fokus yang tinggi. Beberapa meter di depan, ...

Manusia Angka

Image
pinterest Di kampung, saya mengenal sepasang suami istri yang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mereka membuka warung kecil di samping rumahnya.   Dibangun dengan sangat biasa, dari dinding separuh kayu dan sisanya dari arbot. Luasnya hampir sama seperti luas sebuah pos ronda. Warung ini tidak besar, tapi dalam sehari tidak pernah tidak ada yang beli. Setelah dicermati, akhir-akhir ini saya baru tahu kalau ibu pemilik warung itu sering sekali memberikan jajan cuma-cuma pada anak-anak yang beli. Terlebih kepada anak yatim. Sebungkus atau dua bungkus jajan diberikan tanpa perlu dibayar. Tidak mahal, Cuma snack ringan 500an perak ituloh. Sekilas, tidak ada yang spesial dari apa yang dilakukan pedagang seperti ini. Namun jika dicermati, banyak hal yang bisa dipelajari. Menyedekahkan uang 500-1000 perak bagi kita mungkin adalah hal yang sangat biasa. Tapi jika hal itu dilakukan oleh orang yang setiap hari berkecimpung di transaksi ekonomi dengan range yang tidak besar, bis...

Sepasang Mata

Image
Ini mungkin tulisan yang akan sangat emosional, namun tulisan ini pula akan menjadi tulisan yang sanngat jujur. Sebab   apa yang akan aku tuangkan dalam tulisan ini adalah kejadian yang baru saja aku alami. Jumat 31 Januari 2020. Kota Malang masih sangat basah karena hujan yang turun sore tadi. Tapi tidak seperti hujan yang sudah reda, semangat kami- aku dan mas hilmy untuk agenda malam ini begitu berapi-api. Kami sudah tidak sabar lagi untuk kembali berbagi-bagi nasi bungkus. Beberapa saat yang lalu hal ini sudah rutin kami lakukan dan dengan bantuan beberapa donatur. Kesibukan yang semakin menumpuk menjadikan rutinitas ini tidak dapat kami lanjutkan. Hingga malam ini, malam sebelum umur mas Hilmy bertambah angka, kami sepakat untuk melakukan traktiran, traktiran untuk orang yang lebih membutuhkan. Iya, kami memulai kembali agenda berbagi nasi bungkus seperti rutinan setiap minggu di hari jumat bulan-bulan yang lalu. Semoga istiqomah. Pukul 20.00 wib, motor melaju da...

#2019TanpaResolusi

Image
Pada sore yang cerah, waktu menuju hampir ashar. Kota malang masih setia menjadi setting tempatku berbagi cerita. Seperti manusia lainnya, suka-duka kehidupan juga menjadi pengisi hari-hariku. (Mungkin) juga seperti manusia pada umumnya, kadangkala, aku memiliki pertanyaan-pertanyaan yang mendadak muncul dan menuntut untuk segera terjawab. Sebagian besar dari pertanyaan itu akan terjawab ketika aku mulai menuangkannya dalam tulisan. Usiaku sudah menginjak kepala 2 tahun ini. Sebelumnya, aku menjalani waktuku dengan mengalir begitu saja. Hal ini juga yang mungkin menjadikan aku merasa bahwa setiap kejadian dalam perjalanan hidupku adalah alur. Hal yang terjadi dan aku terima adalah wujud keberlangsungan fase hidupku yang sedang 'mengalir' tadi itu. Aku jarang merasa bahwa apa yang terjadi padaku adalah pencapaianku atas usaha dan target-target yang aku buat. Aku lebih sering merasa bahwa apa yang terjadi adalah takdir dan sebab akibat atas pilihan dan tindakanku. J...

Bunga-bunga Rumput

Image
“Apakah kamu merasa baik, Ya?” “Tentu, jauh lebih baik setelah kau pulang” Aku memalingkan wajah  darimu. Mengambil pandangan yang sama denganmu jauh di depan sana. Di antara alang-alang dan bunga rumput yang tumbuh liar. Menembus udara malam yang  bisa diwajarkan dinginnya. Jauh ke depan, ke tempat lampu-lampu kota berserakan seperti cahaya bintang yang disebar sembarangan. Dari atas bukit ini, memang hampir separuh pemandangan kota Batu terhidangkan. 12 Tahun bukanlah waktu yang lama untuk dapat mengubah hidup anak manusia, kecuali jika Tuhan mengirimkannya satu orang yang baik- katanya . “Rupanya kau masih ingat denganku, aku kira kau sudah lupa” Satu batang rokok mengacung di antara telunjuk dan jari tengahmu. Sudah hampir habis, tinggal separuh. Tapi bukan karena kau hisap, melainkan karena sepoi angin yang membakarnya.  Bahkan, jika kulihat rokok itu hanya dua kali menyentuh bibirmu yang terbalut gincu itu.  Ketika kau nyalakan dan kedua kali ...

Menyoal Kita yang Berbeda

Image
Pernah terbayang tidak seandainya semua manusia yang kita temui pikirannya akan sejalan. Pandangannya akan selaras? Pernah terbayang tidak seandainya semua penghuni bumi ini frekuensi hatinya sama. Tidak ada perbedaan pandangan.Tidak ada perbedaan pendapat. Apa semuanya akan baik-baik saja? Jawabannya: belum tentu. Akan selalu ada perbedaan pandangan setiap orang yang satu dengan yang lainnya. Sebab setiap dari kita memiliki perjalanan yang berbeda. Beda masa lalu, beda orang tua, beda ujiannya, beda lingkungannya, benturan-benturan dalam hidup juga berbeda. Meski sama-sama ditempa, jelas hasil akhirnya tidak akan pernah sama. Selalu ada benang merah antara garis mutlak yang ditorehkan Tuhan kepada makhluknya. Adanya perbedaan-perbedaan tadi, mungkin saja salah satu alasan Tuhan menciptakan hati. Agar kita bisa saling mengerti. Bisa saling memosisikan diri. Bisa saling memahami. Mungkin saja. Terkadang kita menciptakan sifat dan sikap ideal orang lain hanya menurut ...

Membaca Hati: Rumah yang Jarang Disinggahi

Image
Tulisan ini adalah sebuah usaha permintaan maaf dan terima kasih. Kepada Tuhanku, dan pada dirimu, siapapun, yang takdirmu terpilin menjadi bagianku. Dan takdirku yang yang terpilin menjadi bagian kehidupanmu --nanti. Seperti yang aku dan kamu tahu , usia selalu tanpa sebab membawa hari ini menjadi kemarin. Membawa yang baru saja menjadi terdahulu. Juga membawa yang dangkal menjadi dewasa. Mungkin seperti usia itu pula, tulisan ini tertuang tanpa butuh terang apa sebab yang mengharuskannya ada. Seperti yang tidak kita sama-sama tahu , apakah usia akan (atau telah) membawamu padaku, juga aku padamu. Aku, kamu, tidak dibiarkan berilmu mengenai itu. Namun bagaimanapun nantinya, biarkan aku selesaikan tulisan yang telah aku mulai.   Terima kasih pada Tuhan yang telah menciptakan terima kasih. Pada semesta yang telah dibiarkaNnya berkonspirasi. Padamu, yang garis tanganmu beririsan dengan punyaku, terima kasih sudah menjadi wujud dari doa-doaku dan doa orang yang telah mend...