Sepasang Mata
Ini mungkin tulisan yang akan
sangat emosional, namun tulisan ini pula akan menjadi tulisan yang sanngat
jujur. Sebab apa yang akan aku tuangkan
dalam tulisan ini adalah kejadian yang baru saja aku alami.
Jumat 31 Januari 2020. Kota
Malang masih sangat basah karena hujan yang turun sore tadi. Tapi tidak seperti
hujan yang sudah reda, semangat kami- aku dan mas hilmy untuk agenda malam ini
begitu berapi-api. Kami sudah tidak sabar lagi untuk kembali berbagi-bagi nasi
bungkus.
Beberapa saat yang lalu hal ini
sudah rutin kami lakukan dan dengan bantuan beberapa donatur. Kesibukan yang
semakin menumpuk menjadikan rutinitas ini tidak dapat kami lanjutkan. Hingga
malam ini, malam sebelum umur mas Hilmy bertambah angka, kami sepakat untuk
melakukan traktiran, traktiran untuk orang yang lebih membutuhkan. Iya, kami
memulai kembali agenda berbagi nasi bungkus seperti rutinan setiap minggu di
hari jumat bulan-bulan yang lalu. Semoga istiqomah.
Pukul 20.00 wib, motor melaju
dari pedesan Gajayana, sebuah warung milik teman kami- Mas Owi, tempat kami
membeli nasi bungkus. Target yang
pertama melintas adalah kedua sosok pedagang bapak-bapak yang berlokasi di
sekitar Pizza Hut Bromo. Mengingat pada hari biasa di tempat inilah dua orang
bapak-bapak ini menggelar karung sebagai alas untuk menggelar dagangannya atau
bahkan sekaligus menjadikannya sebagai alas tidur.
Namun sayangnya, kedua pedagang
ini tidak terlihat ketika kami menepikan motor. Mungkin karena baru saja hujan,
jadi mereka tidak berjualan malam itu. Baiklah, mungkin belum jodoh untuk bertemu
bapaknya. Selanjutnya motor berjalan lurus ke arah stadio Gajayana. Target kami
selanjutnya adalah seorang ibu paruh baya yang biasanya berada di sekitar
(maaf) tangga tempat sampah di belakang stadion Gajayana. Tempat sampah yang
kami maksud adalah bak sampah yang dibangun dengan semen dan menyerupai box
tembok dan menyisakan sebuah kolong di bawahnya. Jika tidak ada di sekitar
stadion, biasanya ibu ini akan terlihat berada di bawah kolong itu. Namun
lagi-lagi kolongya kosong. Baiklah, mungkin karena hujan jadi ibu itu tidak
berada di situ. Selanjutnya motor melaju menuju alun-alun malang, melewati
depan masjid Jami’. Tujuan kami berikutnya adalah seorang ibu yang kerap tidur
di trotoar sisi kanan bagian depan masjid. Tapi karena kami kurang teliti ternyata
tempat ibu itu tidur baru saja terlewat dan kami memutuskan untuk putar balik.
Lgi-lagi, setelah putar balik, ibu itu sudah tidak ada di tempat lagi. Huh
belum bisa bertemu lagi. Agak kesal juga tidak berhasil ketemu orang yang kami
target.
Motor terus melaju, melewati
daerah pertokoan pasar besar. Tapi bukan di daerah ini target kami, karena kami
paham apabila di hari jumat malam daerah ini sudah banyak yang ‘pegang’. Artinya sudah banyak komunitas/pihak yang membagikan
nasi bungkus baik dengan mengendarai mobil maupun bermotor. Bebarapa kali papasan,
bagi-baginya sering kedobelan. Sebab itu, dari pasar besar motor melaju menuju alun-alun kemudian menuju rampal hingga ke
arah daerah Ciliwung. Di sepanjang perjalanan inilah nasi bungkus kami
berkurang hingga habis. Ada beberapa pasang mata yang begitu amat menyentuh
hati. Benar-benar menyentuh hati. Membuat merinding sekujur tubuh. Sebuah binar
yang terpancar dari seorang perempuan tua yang saat itu berada di tepi jalan
raya tidak akan mampu aku lupa. Pernah membayangkan bersedekah dengan benda
paling mahal atau benda kesayangan yang dimiliki? Pernah membanyangkan
menyedekahkan mobil kita? Rumah kita? Atau motor kita? Mungkin saja tangan kita
akan bergetar ketika kita menyerahkan kunci mobilnya. Keringat dingin kita akan
bercucuran dan tubuh kita akan merinding. Ya, begitulah perasaan yang berhasil
aku rasakan hanya dengan membagikan nasi bungkus. Hanya dengan sebungkus nasi loh ya, bukan mobil
atau rumah. Meski telah sering dengan agenda seperti ini namun tidak akan
melulu mampu merasakan perasaan yang sama. Dan meski sering melakukan agenda
seperti ini, kali ini menjadi sangat berharga sebab aku sudah mampu menarik pelajaran
dan mengambil kesimpulan. Kesimpulan yang mungkin akan bermanfaat jika
dibagikan.
Bersedekah itu adalah hal yang
mudah. Jika hanya menyisihkan uang untuk membeli 10 bungkus nasi setiap minggu
atau setiap bulan semua orang pasti mampu. Namun sedekah menjadi sulit karena
dibalik kita menjulurkan tangan itu harus ada niat yang ikhlas. Ikhlas kalau
rute harus agak panjang. Ikhlas kalau agenda ini dilakukan selepas hari yang
panjang selepas seharian di kantor. Tidak semua orang bisa ikhlas dalam bersedekah.
Dan bagian yang paling sulit di antara itu semua adalah bagaimana seorang yang
bersedekah mampu membawa dirinya. Mampu berbagi dengan tidak merasa dirinya di
atas orang lain (orang yang dibagii). Mampu sopan dalam menyampaikan niat
hingga tidak menyakiti atau membuat orang yang hendak kita beri menjadi sedih
atau nelangsa. Iya, ini adalah bagian yang palling sulit. Bagian ketika kita
melakukan agenda seperti ini di tengah waktu istirahat dan kita tentu tidak
boleh asal begitu saja mengeksekusinya. Berbagi dengan penuh senyum agar orang
lain juga tersenyum. Oh iya, kalau kami biasanya aku yang lebih sering
berinteraksi dengan orang yang menjadi target kami dan mas Hilmy yang tetap
berada di motor. Dalam memberi aku biasanya bilang se sopan mungkin seperti
ini:
“Pak/bu ngapunten nuwun sewu,
niki wonten sekul sebungkus, Panjengan tedo nggih. Matur suwun.”
Ketika bapak/ibu itu bilang
terima kasih, tidak lupa aku mengucapkan terima kasih untuk yang kedua kali.
Jika posisi mereka sedang duduk atau tidur di lantai langkah baiknya apabila
saat memberi usahakan posisi badan kita sejajar, jongkok atau duduk baru
kemudian berikan nasinya. Hindari memberikan dalam keadaan berdiri. Dan
terakhir, kurangin banget ngedokumentasi kalau bisa. Fokus ngobrol dengan
mereka kalau memang mereka sedang mengajak berbicara.
Semoga ada hal baik yang bisa
diambil dari tulisan ini, semoga tulisan ini juga bisa menjadi pengingat orang
lain dan juga bagiku ketika semangat berbagi itu pudar hingga bisa semangat
lagi dalam berbagi.

Comments
Post a Comment