Kehidupan dalam Lampu Motor yang Mati
Hari itu, hari senin sehabis subuh. Bapak bersiap memanaskan mesin motor dan Ibu sibuk mengabsen satu persatu barang bawaanku. Maklum, pelupa. Dari barang kecil hingga barang penting seperti dompet dan tas pernah ketinggalan begitu saja. Hahaha..
Setelah dirasa semua beres, aku pun pamit dan bergegas berangkat. Ah, terkadang umur fisik ini terasa berjalan begitu cepat. Sepertinya baru kemarin pagi aku pamit untuk berangkat sekolah. Ritual cium tangan itu rasanya hanya pelengkap dan bagian dari rangkaian rutinitas minta uang saku saja. Sekarang, cium tangan itu maknanya dalam sekali. Cium tangan menjelma menjadi bentuk permintaan restu dari aku - anak yang merantau dan jauh dari rumah pada orang tuanya, agar apa-apa yang diupayakan diluar sana sesuai dengan yang diharapkan.
Tengah asyik memaknai ritual cium tangan tiba-tiba saja motorku tergelincir. Aduh, untung saja tidak sampai jatuh. Jalanan yang berbatu khas perkampungan memang menuntut fokus yang tinggi. Beberapa meter di depan, jalanan sudah mulai membaik, meski tidak begitu mulus, paling tidak setelah keluar gang rumah jalanan sudah aspal.
Eh tapi kok lubang-lubang masih tak terhindarkan ya. Duh, apes! Pasti ini penyakit karyawan kantoran, mata minus!
Aku pun berkendara dengan extra fokus. Hari masih gelap, kabut di jalan masih tebal. Karena jarak pandang yang pendek lampu jauh tentu tidak banyak membantu. Aku switch lampu dekat.
klik-klik
Loh kok lampunya gak berubah sih..
klik-klik
Loh kok masih tetep gak berubah.
klik-klik
Loh kok masih tet... baajiguuur!!
Rupanya dari rumah tadi lampuku mati toh!
Asem tenan!!
Pantas saja, keluar dari rumah bentar motor keglincir. Pantas juga lubang aspal gak kelihatan, kabut gak tembus. Lahwong lampu depan semuanya mati. Duh piye iki. Kostan juga masih jauh. Jalan desa juga minim penerangan. Senter juga tidak bawa. Kebun di kanan-kiri jalan menambah gelap suasana. Rumah penduduk juga jarang-jarang. Mau balik lagi ke rumah tidak mungkin, yang ada bapak malah panik, bengkel juga belum buka. Kalau nunggu di depan bengkel yang ada aku malah kesiangan, telat kerja. Duh..
Baik-baik, jangan panik. Mari putuskan sesuatu.
Setelah beberapa saat ada diskusi di kepala, aku memutuskan lanjut berangkat saja. Pelan-pelan asal selamat. Dengan sedikit keberanian dan dominan keterpaksaan, perjalanan dilanjutkan.
Sepanjang jalan aku masih menggerutu. Aku adalah orang yang sering kesal dangan orang yang berkendara tanpa lampu di hari yang gelap. Bagaimana tidak, berkendara seperti itu akan sangat membahayakan bagi orang lain. Bisa jadi orang lain tidak sadar bahwa ada pengendara. Potensial sekali menyebabkan kecelakaan. Dan pagi ini, aku lah yang menjadi orang berkendara tanpa lampu itu. Kejadian yang sebelumnya tidak pernah terbesit sama sekali.
Masih tidak habis pikir, kemarin lampu motor ini masih baik-baik saja. Tadi waktu mesin motor dipanaskan bapak juga tidak ada masalah.
Ah iya, di dalam hidup ini banyak hal yang berada diluar kendali kita. Terkadang permasalahan datang dengan tanpa aba-aba. Banyak lagi hal-hal serba mendadak yang bisa saja terjadi.
Lagi enak-enak naik motor lampu tiba-tiba mati. Lagi enak-enak membangun bisnis, partner mengkhianati. Lagi enak-enak sama istri eh mertua ngetuk pintu. Gak ding, yang ini bercanda.
Gak terasa, saking asiknya berefleksi di jalan sampai-sampai tidak sadar kalau langit udah mulai cerah. Jalan desa beralih jadi jalan protokol. Kebun-kebun berubah menjadi bangunan di kanan dan kiri. Pengendara sudah banyak dan jalanan sudah ramai seperti biasa. Lega..
Alhamdulillah, walau mata pedes dan kering karena melototi jalanan, yang penting bisa sampai kost dengan selamat. Tidak ada begal. Tidak ada pengendara yang nabrak dari belakang. Tidak juga kejebak lubang-lubang jalanan yang dalam seperti yang ditakutkan. Meski sedikit kesiangan tapi masih sempat nyari bengkel buat pasang lampu baru.
Pagi yang melelahkan tapi penuh pelajaran. Kembali diingatkan oleh kehidupan, banyak hal tidak menyenangkan (menurut kita) bisa datang kapan saja. Ribuan ujian di luar sana sedang menanti untuk disikapi. Semua itu memang membutuhkun upaya yang lebih, kesabaran yang lebih dan optimisme yang lebih.
Pelajaran yang lain adalah rasa syukur yang kerap terlupa. Ada begitu banyak hal yang selama ini ada dan memberikan banyak kemudahan buat kita. Namun kebermanfaatannya kerap baru kita sadari saat sesuatu itu hilang, rusak, atau pergi.
Dan yang terakhir adalah pelajaran bahwa roda kehidupan itu berputar. Hari ini kita kesal karena ada bapak-bapak yang berkendara dengan lampu mati, besok-besok bisa jadi kita yang demikian. Hari ini kita menjenguk teman sakit, bisa jadi besok kita yang sakit.
Mari menjalani kehidupan dengan penuh pengertian~


Comments
Post a Comment