Manusia Angka

pinterest



Di kampung, saya mengenal sepasang suami istri yang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mereka membuka warung kecil di samping rumahnya.  Dibangun dengan sangat biasa, dari dinding separuh kayu dan sisanya dari arbot. Luasnya hampir sama seperti luas sebuah pos ronda.
Warung ini tidak besar, tapi dalam sehari tidak pernah tidak ada yang beli. Setelah dicermati, akhir-akhir ini saya baru tahu kalau ibu pemilik warung itu sering sekali memberikan jajan cuma-cuma pada anak-anak yang beli. Terlebih kepada anak yatim. Sebungkus atau dua bungkus jajan diberikan tanpa perlu dibayar. Tidak mahal, Cuma snack ringan 500an perak ituloh.
Sekilas, tidak ada yang spesial dari apa yang dilakukan pedagang seperti ini. Namun jika dicermati, banyak hal yang bisa dipelajari. Menyedekahkan uang 500-1000 perak bagi kita mungkin adalah hal yang sangat biasa. Tapi jika hal itu dilakukan oleh orang yang setiap hari berkecimpung di transaksi ekonomi dengan range yang tidak besar, bisa jadi perbuatan tersebut lebih dari apa yang kita nilai sebelumnya. Jika dipikir, berapa sih untung yang diperoleh dari jaga warung kecil seperti itu? Baik, coba kita rincikan lebih panjang.

Kita mulai dari lauk termewah berdasarkan standard warga desa- telur. Satu kilo telur dengan harga Rp 24.000/kg dibeli dari tengkulak seharga Rp 23.500/kg (update harga bulan maret 2020). Dijual dengan satuan yang beragam menyesuaikan pembeli. Paling banyak, orang di desa belanja telur ¼ kg setiap kali beli. Jadi laba dari terjualnya satu kilogram telur adalah Rp 500 dan dibayar 4 kali. Jadi keuntungannya Rp 125 perak per transaksi. Lakunya? Belum tentu dalam sehari satu kilo terjual habis. Lanjut, berapa sih keuntungan dari penjualan per pcs mie instan? 10 pcs mie instan yang dibeli dari tengkulak seharga Rp 22.500 jika terjual habis menjadi Rp 25.000. Per pcs untung yang di dapat Rp 250 perak. Ini sudah lumayan. Oke, sekarang bagaimana dengan untung dari jualan satu renceng snack? Satu renceng isi sepuluh bungkus, harga dari tengkulak Rp 4500, di jual perbiji Rp 500. Jika terjual semua dapat uang Rp 5000. Laba Rp 500/renceng atau 50 perak per bungkus.

Jika menggunakan analisa kasar, mengesampingkan urusan sosial atau agama, memberikan satu pcs snack secara cuma-cuma akan menjadikan impas. Jika dua renceng yang dibagikan, artinya tidak ada keuntungan lagi yang bisa diambil dari penjualan snack. Belum lagi jika memerhitungkan tenaga saat kulakan, ongkos jaga warung dll. Menurut saya, sangat korelatif sekali untuk membahas dan mungkin merenungkan hal ini di era ekonomi sekarang. Era ekonomi yang saya maksud adalah era ekonomi mandiri, era dimana kemampuan berwirausaha seseorang selalu di asah bahkan sejak dari sekolah menengah pertama. Gaungan untuk menciptakan kemandirian ekonomi sering kita dengar lewat sekolah-sekolah, kampus-kampus, seminar-seminar dll. Baik dari pihak swasta maupun pemerintah yang menekankan atau bahkan setengah mewajibkan seseorang untuk menciptakan lapangan kerja sendiri dan menjadi wirausahawan. Lingkungan seperti ini lah yang kemudian mendukung dan menciptakan kondisi bak belati bermata dua. Selain dampak baiknya yang sudah sering dijlentrehkan, hidup pada bentukan seperti ini tak jarang menjadikan sebagian orang fanatik terhadap satu prinsip hidup, yaitu prinsip ekonomi: pengeluaran sedikit-dikitnya dan pemasukan sebanyak-banyaknya. Dengan begitu takar sebuah pertimbangan kadang bukan lagi keadilan, tapi digit-digit nominal. Pengeluaran hari ini harus menghasilkan berkali-kali lipat esok atau lusa. Tahan. Baca kembali: untuk sebagian orang.

Setelah demikian, segala suatu kepentingan akan penting menurut harga yang mampu ditawarkan. Penerapan prinsip ekonomi secara berlebihan dalam keseharian yang dilakukan secara terus menerus apalagi- kerap mengakar menjadi kebiasan lalu terpupuk menjadi watak.  Tidak jarang menjadi sulit membedakan kapan dia harus menjadi manusia ekonomi, kapan harus menjadi makhluk sosial atau hamba suatu agama. Perhitungan terhadap diri sendiri, perhitungan terhadap saudara dan yang paling sering tidak tersadari adalah perhitungan terhadap Tuhan. Setiap kejadian dalam keseharian menjelma menjadi angka-angka transaksi untung-rugi. Jika suatu hal itu tidak ‘menguntungkan’, tidak ada ruang di urutan prioritas atas kejadian itu. Sebenarnya, inilah resiko terburuk itu. Dengan menjadi wirausahawan atau orang-orang yang berkecimpung dengan uang bukanlah menjadi pailit. Hal yanng paling menyedihkan adalah ketika kita sudah menjadi manusia angka yang memperhitungkan semuanya dari satu sisi yang menguntungkan menurut penilaian kita saja.

Tidak, jangan menebak tulisan ini adalah anjuran untuk menghindari dunia wirausaha, bukan itu. Berwirausaha adalah baik. Kebutuhan pasar global terus meningkat, penduduk terus bertambah, pasar bebas dunia terbuka lebar bagi kita. Artinya, tidak ada yang salah dari seorang wirausahawan. Berwirausaha dengan hanya menggunakan prinsip ekonomi yang berlebihan tidak jauh lebih baik dengan berwirausaha tanpa prinsip ekonomi.
Yang sulit untuk diingat adalah fakta bahwa  dalam keseharian banyak aspek yang harus manusia  seimbangkan. Bukan hanya pada aspek ekonomi saja seseorang harus khatam. Jika tiba-tiba kita menjadi perhitungan diri sendiri, teman atau bahkan Tuhan, jangan-jangan kita terlalu banyak posting jualan. Jangan-jangan kita sudah terkena syndrome manusia angka.
Menghindari syndrome manusia angka memang tidak mudah. Namun sosok seperti ibu penjaga warung kelontong di awal tadi, bisa jadi gambaran bahwa keseimbangan itu bisa kita ciptakan.

Comments

Popular posts from this blog

Membaca

Aku Belum Hidup

Menyoal Kita yang Berbeda