Bunga-bunga Rumput




“Apakah kamu merasa baik, Ya?”

“Tentu, jauh lebih baik setelah kau pulang”

Aku memalingkan wajah  darimu. Mengambil pandangan yang sama denganmu jauh di depan sana. Di antara alang-alang dan bunga rumput yang tumbuh liar. Menembus udara malam yang  bisa diwajarkan dinginnya. Jauh ke depan, ke tempat lampu-lampu kota berserakan seperti cahaya bintang yang disebar sembarangan. Dari atas bukit ini, memang hampir separuh pemandangan kota Batu terhidangkan. 12 Tahun bukanlah waktu yang lama untuk dapat mengubah hidup anak manusia, kecuali jika Tuhan mengirimkannya satu orang yang baik- katanya.

“Rupanya kau masih ingat denganku, aku kira kau sudah lupa”
Satu batang rokok mengacung di antara telunjuk dan jari tengahmu. Sudah hampir habis, tinggal separuh. Tapi bukan karena kau hisap, melainkan karena sepoi angin yang membakarnya.  Bahkan, jika kulihat rokok itu hanya dua kali menyentuh bibirmu yang terbalut gincu itu.  Ketika kau nyalakan dan kedua kali sebelum kau menjawab pertanyaanku di awal perbincangan.

“Hahaha maunya aku lupa, tapi bagaimana lagi. Tidak bisa”

“Bajingan. Bagaimana anak-anakmu sekarang? Sudah nambah?”
Tawamu pecah, namun pandanganmu masih lurus ke depan. Aku tahu kamu menimpali sembarangan. Bukan hal itu yang sebenarnya ingin kau tanyakan. Terlebih setelah kita tidak berjumpa selama 12 tahun. Benar kan?

“Mereka baik, aku harap kau dan hidupmu juga”

“Tentu saja aku baik. Anakku sudah sekolah kelas 2 SD. Sehat dan jarang rewel. Dia seperti tahu kondisi ibunya yang dari dulu susah begini. Hanya beberapa kali dia sering merengek menanyakan siapa bapaknya. Hahaha itu yang paling susah”


 “Kau yang membiayainya?”
            
“Tentu saja. Aku akan membiayainya hingga dia bisa sekolah tinggi dan menjadi sarjana.”
            
 “Kau masih dengan tante Ri..”
             
 “Jangan lagi kau sebut namanya, Han. Mucikari itu sudah lama aku lupakan. Di hidupku dia sudah mati dan tidak akan pernah hidup lagi.”
Bibirku mengatup. Betapa bodoh laki-laki yang baru saja menabur garam pada luka seorang perempuan di sebelahnya itu.

“Aku menjadi kuli panggul di pasar. Setiap hari masih sehat dan bisa makan. Aku menerima apapun yang diupahkan padaku. Segelas beras, satu piring nasi atau seikat bayam.”
Kau terhenti, bibirmu bergetar dan nada suaramu merendah.
“Aku menerima upah apapun kecuali ajakan untuk tidur. Hahaha.”
Nada suaramu semakin rendah dan juga--parau.Tapi masih dapat juga kamu tertawa, Naya...
             
 “Apa tidak ada pekerjaan lain yang lebih ringan, Ya?”
             
 “Tidak, tempat ini menarik. Pekerjaan ini begitu menghiburku Han.”
...aku menatap matamu lekat. Dirimu sama sekali tidak berubah.
          
 “Masih banyak pekerjaan di luar sana yang bisa menerimamu Ya.”

"Tempat kerjaku amat lucu. Sayang sekali kalau aku pindah. Aku senang karena sering mendapati kejutan disini. Ternyata kehinaanku ada gunanya"

“Maksudmu?”
Kamu terdiam tak menyahuti. Tanganmu sibuk merogoh kantong untuk sebuah korek api. Batang rokokmu sudah mati sedari tadi. Kau menyalakannya kembali.
            
 “Pekerjaan itu terlalu berat bagi perempuan. Pindahlah. Carilah pekerjaan lain”
Tawamu pecah. Begitu lepas hingga kau terbatuk-batuk, tersedak.
           
 “Hiburan Han, aku justru bisa membuka banyak topeng-topeng yang selama ini terpampang manis di wajah orang-orang..”

“Ku kira para perangkat desa yang tampilannya parlente itu, tukang ceramah itu, saudagar-saudagar itu semuanya bersih, Han. Ternyata sama saja”
           
 Aku beranjak dari dudukku. Rasanya sesak mendengarmu berkisah begitu. Walaupun 12 tahun sudah kita tidak saling tahu menahu. Bahkan, setelah aku dan dirimu sama-sama memiliki kehidupan yang baru, rasanya.. entahlah, ada geram yang memuncak setiap kali kau bercerita laki-laki lain yang menawarkan tidur denganmu.
           
 “Mau kemana?”
Kamu sedikit terkejut dengan uluran tanganku yang memintamu ikut beranjak berdiri.
            
 “Mari lanjutkan hidup dengan lebih menyenangkan, Ya. Banyak bagian dari hidup yang menantang di depan sana”
Aku memaksakan senyum yang lagi-lagi kau potong dengan gelagak tawamu. Satu hembusan asap rokok keluar dari bibir tipismu.
            
“Kita tidak perlu menantang hidup Han, tetaplah disini. Duduklah di sampingku dengan nyaman. Biarkan kehidupan yang menghampiri kita.”
Aku semakin memandangmu lekat. Sedang kau berhasil menarik lenganku dan membuatku kembali duduk di sampingmu.
           
 “Kamu masih bisa merokok?”

Tanyamu sambil mengeluarkan satu batang untukku.

Comments

Popular posts from this blog

Membaca

Aku Belum Hidup

Menyoal Kita yang Berbeda