Ngaji Hidup Zaman Sekarang





Akhir-akhir ini sering rindu sama masa ngaji di kampung waktu kecil.
Masa berangkat ngaji rame-rame. Pakai jilbab asal asalan karena takut ditinggal temen-temen.
Berangkat sambil kejar-kejaran. Masa nyulap masjid jadi tempat paling seru karena bisa petak umpet bareng-bareng. Masa dimana hal yang ditakuti cuma ada tiga: maju muroja'ah urutan pertama, dimarahin guru ngaji karena ketahuan naik atap masjid dan pulang ngaji sendiri tanpa ada jemputan dari orang rumah. Tapi rindu juga ya, pulang bareng cuma modal obor dan bacaan ayat kursi blepotan. Sok strong padahal aslinya ketakutan pulang sendirian.

Duh kangennya...

Masa nunggu teman khatam adalah surga karena setelahnya makan-makan. Oh iya, waktu itu surga neraka cuma Allah yang punya. Syukuran di masjid masih sah-sah saja. Murid dan guru hubungannya ya tatap muka. Belum ada balas komen lewat sosial media. Senakal-nakalnya murid kala itu, ya nunduk juga. Mungkin kami beruntung zaman segitu belum tersentuh arus media sosial. Jangan-jangan nanti etika kami tidak cukup baik lantas kami merasa setara dengan guru kami di instagram. Jangan-jangan nanti kami jadi mengotori kolom komentarnya dengan dangkalnya ilmu dan pengetahuan yang kami punya. Jangan-jangan...

Waktu itu sistem belajarnya praktik dan cerita. Bab najis misalnya, sekalinya diterangkan makna suci, setiap harinya bersihin kotoran cicak di pojokan-pojokan. Bab bersyukur misalnya, sekalinya khusyu' dengerin cerita Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, setelahnya milihin sisa nasi yang jatuh di karpet setelah acara diba'an. Dan dimakan.Begitulah pemahaman kami waktu itu, intinya kami hanya ingin manut sama guru. Itu saja. Hmm... meski banyak pemaknaan dari ilmu-ilmu itu yang baru sampai sewaktu kami beranjak dewasa, semoga ilmu itu tetap berkenan mengikuti murid-murid bodoh ini bertumbuh dan menua.

Waktu itu tidak ada islam garis keras, yang kami tahu islam ya hanya satu. Gak pakai pola. Tidak ada islam garis-garis, islam kotak-kotak.
Adakah perbedaan pendapat ber-umat? banyak. Tapi kami semua yakin, semua hal tergantung niatnya. Jangankan menjadi hakim mana-mana yang benar, mana-mana yang salah, makna benar dan salah saja kami masih belajar dan terbata-bata.

Kami berbeda penentuan satu Ramadhan, ya sudah. Yang puasa dulu silakan, yang menyusul ya monggo. Niat kami kan sama saja, ingin puasa. Tidak perlu ramai-ramai adu pikiran. Tidak perlu.

Berbeda selera imam tarawih, berbeda selera takmir, berbeda tentang tradisi agama, berbeda apapaun kami tidak gusar. Tuhan tahu apa yang di hati dan dilisankan.
Perbedaan kami dulu hanya selebar itu. Jadi ya.. adem-adem saja.

Tapi aku pun yakin, agama sekarang juga adem-adem saja. Baik-baik saja. Tidak ada yang beda dengan zaman kami ngaji dulu.

Bedanya, kalau sekarang belajar wudhu lewat buku, kami dulu pergi ke sumur rame-rame. Meski capek, kami tetap senang.
Timba kami macem-macem isinya, bukan cuma air saja.





Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Membaca

Aku Belum Hidup

Menyoal Kita yang Berbeda