Sebuah Usaha Berterimakasih
Kita diciptakan untuk selalu bersyukur. Tidak lupa untuk berterima kasih pada setiap jengkal perjalanan hidup yang luar biasa ini. Pada orang-orang yang kita temui. Pada kerikil yang kita tapaki.
Mereka yang tak selalu sejalan dengan kita. Mereka yang kerap berbenturan dengan kita. Ucapannya, perbuatannya, apa saja yang kerap menjadikan kita untuk terus belajar melapangkan hati dan melapangkan dada. Berterimakasihlah. Bersyukurlah atas keberadaannya. Percayalah bahwa apa dan siapa saja yang kita temui, kemarin, hari ini dan seterusnya, adalah wujud dari bentuk pengharapan kita pada Tuhan. Bentuk dari doa yang selalu kita Aamiin-kan.
Bagaimana bisa? Percayalah, dengan semua proses yang ada, Tuhan sedang mengabulkan doa-doa kita. Tuhan akan menjadikan kita manusia tabah, menjadikan kita manusia yang menghargai sesama, menjadikan kita mudah mengalah, menjadikan kita lapang menerima, berusaha sungguh-sungguh dalam segala upaya kita dan menjadikan kita manusia yang berharga. Bukankah yang demikian-demikian itu yang selalu kita rapalkan dalam doa?
Berterimakasihlah, one more, iam repeat it, berterimakasihlah, sadarilah bahwa setiap proses kehidupan yang dipersuakan dengan diri kita ini akan menjadikan kita manusia yang benar-benar utuh. Akan mempersiapkan diri kita, diri kita yang tangguh, kita yang tidak mudah mengeluh, kita yang benar-benar akan matang saat kita telah selesai dengan kehidupan ini dan kita yang akan menjadi versi tersiap saat kita mempertanggungjawabkan usia kita di hadapan Tuhan kita nanti.
-Tuhan,. Aku berterima kasih atas perjalanan ini, atas rasa kecewa dalam aku berproses, atas luka yang Kau ijinkan menggores, atas bahagia, atas tawa, atas harapan yang tak semuanya terjawab, atas mimpi yang diijinkan terpatri begitu indah, atas jalan dan orang-orang yang Kau pertemukan denganku saat ini, atas restu yang Kau ijinkan untuk diri ini menghamba, menjadi salah satu dari ciptaanMU. Tuhan, terima kasih . Atas hidup dan juga atas kelahiran ini,-
Mereka yang tak selalu sejalan dengan kita. Mereka yang kerap berbenturan dengan kita. Ucapannya, perbuatannya, apa saja yang kerap menjadikan kita untuk terus belajar melapangkan hati dan melapangkan dada. Berterimakasihlah. Bersyukurlah atas keberadaannya. Percayalah bahwa apa dan siapa saja yang kita temui, kemarin, hari ini dan seterusnya, adalah wujud dari bentuk pengharapan kita pada Tuhan. Bentuk dari doa yang selalu kita Aamiin-kan.
Bagaimana bisa? Percayalah, dengan semua proses yang ada, Tuhan sedang mengabulkan doa-doa kita. Tuhan akan menjadikan kita manusia tabah, menjadikan kita manusia yang menghargai sesama, menjadikan kita mudah mengalah, menjadikan kita lapang menerima, berusaha sungguh-sungguh dalam segala upaya kita dan menjadikan kita manusia yang berharga. Bukankah yang demikian-demikian itu yang selalu kita rapalkan dalam doa?
Berterimakasihlah, one more, iam repeat it, berterimakasihlah, sadarilah bahwa setiap proses kehidupan yang dipersuakan dengan diri kita ini akan menjadikan kita manusia yang benar-benar utuh. Akan mempersiapkan diri kita, diri kita yang tangguh, kita yang tidak mudah mengeluh, kita yang benar-benar akan matang saat kita telah selesai dengan kehidupan ini dan kita yang akan menjadi versi tersiap saat kita mempertanggungjawabkan usia kita di hadapan Tuhan kita nanti.
-Tuhan,. Aku berterima kasih atas perjalanan ini, atas rasa kecewa dalam aku berproses, atas luka yang Kau ijinkan menggores, atas bahagia, atas tawa, atas harapan yang tak semuanya terjawab, atas mimpi yang diijinkan terpatri begitu indah, atas jalan dan orang-orang yang Kau pertemukan denganku saat ini, atas restu yang Kau ijinkan untuk diri ini menghamba, menjadi salah satu dari ciptaanMU. Tuhan, terima kasih . Atas hidup dan juga atas kelahiran ini,-
bagus tulisannya
ReplyDelete