(Kisah) 2: Mengecup Kepedihan Hati Orang-orang di Sekitar
Namanya Rudi. Teman dekatku yang tak berhasil aku peluk
lukanya. Tak sempat aku kecup kepedihannya. Sekarang, Rudi telah
bermetamorfosa ekstrim, sebuah haluan besar telah ia ambil, haluan sebagai bukti damai dirinya dengan kehidupan yang sedang ia perjuangkan.
"Setiap jiwa yang berpegang teguh dengan keyakinan tanpa
ada keraguan pada hal itu, maka katakanlah dia telah sampai pada keyakinan
paling tinggi yang dipilihnya. Dalam keyakinannya itu pula,
setiap ia dijadikan percaya akan harapan dan kebaikan".
Belum lama ini, aku bertemu dengan Rudi. Memaksa untuk dapat menemuinya kembali, begitulah mungkin lebih tepatnya. Sebuah acara opera menjadi pertemuan pertama sejak hampir dua tahun aku tak berkesempatan bertemu dengannya. Selama tidak ada kesempatan bersua, jujur, aku pun rajin mengunjungi rumah mayanya, disana ia terlihat bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.
Tapi, ada bagian yang mengatakan padaku, dia
tidak sedang baik-baik saja saat aku menemuinya beberapa waktu lalu. Ya semoga pikiranku
keliru.
Semenjak ia merubah haluan dasar atas keyakinannya, komunikasi antara kami menjadi sangat terbatas. Iya, terbatas, bahkan sangat jarang. Apakah aku rasis? Apakah aku seorang dengan model pertemanan untung-rugi based? Tidak-tidak, begini, tidakkah sebuah keyakinan yang dijalani seseorang sejak lahir tak akan mudah berubah kecuali karena adanya hantaman yang besar? Jika pandanganku yang demikian saat itu tidak keliru, Rudi tentu sedang dalam low-flow phase di hidupnya.
Lantas, bukankah saat seperti itu nasihat seorang teman dibutuhkan? Tidak selalu.
Dalam hal ini, akan runyam bila terlalu banyak kepala yang masuk. Jika yang lain menunjukkan rasa pedulinya dengan berbagai nasihat yang diberikan, aku pun sedang dalam caraku--diam. Biar dia dengan tenang menentukan, dengan matang memutuskan, biar Rudi sendiri yang meyakinkan hatinya atas jalan hidupnya kedepan.
Pada saat yang sama, emosinya begitu tidak stabil. Bahasan ringan kami sehari-hari kerap salah pengartian. Dan hal itu cukup untuk membuatku bungkam sebagai bentuk dukungan untuknya dengan diam-diam.
Sebab itu pula, aku sangat berhati-hati sekali saat memulai pembicaraan dengannya. Takut-takut jika apa yang aku ucap akan melukai perasaannya. Memperlebar jarak pertemanan di antara kami berdua. Aku lebih memilih diam daripada membuatnya salah penafsiran. Dari banyak kesulitan yang sedang diselesaikannya, aku tidak ingin turut melukainya juga. Aku sadar, ada banyak sekali kepingan kehidupannya yang belum sempat aku ketahui. Ada banyak pula life struggle yang ia hadapi. Dibalik prestasinya yang gemilang, pencapaian dan pergaulannya yang terarah, aku berpikir sepenuhnya bahwa ia sedang baik-baik saja kala itu.
"Atas bagian ini, aku minta maaf, aku tak sampai mengerti semua kesulitanmu".
Sebab itu, aku berpikir sekali lagi, datang lalu menggurui bukanlah sikap yang bijak
untuk masa sulitnya kala itu.Ada banyak cerita yang aku terlewat darinya.Terlebih, atas saran juga atas apa yang harus dan apa yang tidak harus dilakukannya, aku simpan rapi-rapi di kepala. Menasihati tanpa mengerti keadaan sepenuhnya, hanya akan mengeruhkan pikirannya.
"Barangkali nanti tulisan ini sampai padamu, percayalah sikap ketidakacuanku dulu adalah caraku merawat pertemanan kita agar tidak sampai layu"
Kurang lebih 3 tahun yang lalu, Rudi mempertegas perubahan kiblat Ketuhanannya. Bersamaan dengan itu status mengenai ketidakharmonisan hubungannya dengan orang tuanya juga menjadi tema yang mendominasi postingan di akun facebooknya. Aku kira waktu itu perasaannya teramat tipis untuk sekadar berbagi cerita. Lagi, aku memutuskan diam dan tidak berkabar apa-apa. Meski sebenarnya, ada banyak ribuan pertanyaan di benakku tentu saja.
"Barangkali nanti tulisan ini sampai padamu, percayalah sikap ketidakacuanku dulu adalah caraku merawat pertemanan kita agar tidak sampai layu"
Kurang lebih 3 tahun yang lalu, Rudi mempertegas perubahan kiblat Ketuhanannya. Bersamaan dengan itu status mengenai ketidakharmonisan hubungannya dengan orang tuanya juga menjadi tema yang mendominasi postingan di akun facebooknya. Aku kira waktu itu perasaannya teramat tipis untuk sekadar berbagi cerita. Lagi, aku memutuskan diam dan tidak berkabar apa-apa. Meski sebenarnya, ada banyak ribuan pertanyaan di benakku tentu saja.
Hingga tibalah aku
pada titik terujung diamku. Aku tembak dia dengan satu pertanyaan mengenai
status keagamaannya. Aku tidak tahu seberapa ikut campur aku disana, namun aku rasa aku perlu tahu keputusannya. Aku
masih ingat jelas jawaban yang ia katakan, dia masih seiman denganku. Dan aku
lega saat itu. Lega atas jawaban, pun lega atas dia yang aku rasa sudah menemukan titik terang dari permasalahan itu.
Namun tidak sampai di situ, beberapa waktu semakin hari sebelum ia
benar-benar mempertegas dan membuatnya semakin jelas, ada banyak postingan
berbau religiuitas yang muncul, dari komentar setiap rekannya, tidak bisa aku tampik, bahwa kami sudah bukan saudara
seiman lagi. Dan semenjak itu, aku tidak berani kembali mempertegas pertanyaanku yang dulu. Keputusannya yang berubah, biar dia yang simpan apa alasannya.
Kecewa? Sadarilah aku selalu menepis perasaan semacam itu yang melintas di kepala. Bagaimanapun juga
dia adalah nahkoda dari kapalnya sendiri. Aku menyadari, sama halnya
denganku, dia juga sedang dalam pencarian dan perjuangan mendapatkan harapannya
saat ini. Sebagai teman, sehati penuh aku menghormati pilihannya. Mendoakan apa-apa yang terbaik untuknya.
Aku rasa, banyak
alasan untuknya menentukan satu per satu pilihan yang datang, apapun itu, semoga
akhir dari kehidupannya, kehidupanmu, kehidupan kita semua adalah kebaikan.Semoga.
Comments
Post a Comment