Memacari Resiliensi: 2) Bouncing Back yang Seksi

Kusebut namanya Merah. Teman sedari kecil yang hampir dalam segala hal kami lakukan sama-sama. Hanya saja, hubungan kami terputus sejak SMA. karena dia dan aku memilih sekolah yang berbeda.Setelah masing-masing kami lulus, hubungan itu mulai terawat lagi. Aku dan Merah kembali lebih sering berkomunikasi. Ternyata tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk merubah seseorang.Merah tumbuh menjadi remaja yang emosinya naik turun. Banyak perubahan dari si Merah kecil yang aku kenal dulu. Perasaannya begitu tipis untuk menerima saran. Kehidupannya terlampau bebas dan untuk menasihatinya, dibutuhkan hati yang siap untuk berhadapan dengan egonya yang luar biasa.

Jika di runut, cerita hidup Merah sungguh jauh memang dari kisah hidup ideal remaja gadis lainnya.
Merah, besar tanpa sosok seorang ayah. Yang jika aku tidak salah, ayahnya pernah datang sewaktu kami kecil dan semenjak itu tidak ada yang tahu atau sekadar ingin tahu perihal ayah Si-Merah ini. Jika ditanya, barangkali rupa ayahnya pun, sedikit sekali kemungkinan Merah akan ingat.
Ibunya sendiri sudah bertahun-tahun bekerja menjadi tenaga kerja di luar negeri namun tidak pula memperbaiki perekonomian keluarga Merah.Entah apa sebabnya.

Saat Merah berada di bangku SMP, ibu Merah lantas memutuskan menikah lagi. Meski sudah berada di Indonesia, ibu Merah tinggal di rumah suami barunya. Seperti saat ibunya masih bekerja di luar negeri, komunikasi antar ibu dan anak ini amat sedikit sekali. Selama kecil sampai Merah remaja, bisa dikata ia kehilangan peran orang tua. Peran ayah dan juga ibunya.Dan sebagai anak tunggal Merah hanya tinggal berdua bersama neneknya.

Jika diandaikan sebagai sulur, Merah tak tahu harus menjalar ke mana.Ia tak mempunyai seseorang sebagai penopang dalam hidupnya. Nenek Merah yang sudah tua tentu sedikit banyak akan kesulitan mengikuti pergaulan cucunya. Berada di keadaan demikian membuat Merah begitu rentan terbawa arus pertemanan. Benar saja, masa SMA Merah dilingkupi kenakalan.Iya, katakanlah Merah telah salah pergaulan.

Di sisi lain, Merah adalah remaja pekerja keras. Besar dalam keadaan keluarga yang demikian menuntut dirinya untuk mandiri. Sedari SD ia sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah layaknya orang dewasa.
Tanpa ada pembimbing, menuntut Merah tumbuh menjadi wanita tegas.

Dari kedekatan komunikasi kami berapa lama ini,  juga lewat cerita-cerita dan juga sikap Merah terhadap ibunya yang aku dengar dengan telingaku sendiri, hubungan emosional antara keduanya sudah amat tipis. Bahkan Merah sering nyeletuk, "buat apa aku peduli sama ibuk, dia sendiri ga pernah peduli sama aku".
Dari penampilan luar, Merah tentu baik-baik saja. Tapi, jangan ditanya perasaannya seperti apa. Emosinya kerap kali meluap-luap tak terkendali saat menghadapi masalah. Dan diluar itu semua, satu tekad terbesarnya adalah untuk membahagiakan neneknya. Ia pun kerap bercerita mengenai penyesalannya telah sering melukai hati neneknya di waktu lalu.


Berproses menjadi lebih baik tentu bukanlah hal yang mudah, tapi perjuangan Merah pantas dijadikan contoh. Pelan-pelan ia mulai meninggalkan lingkungannya yang dulu.Pelan-pelan Merah mulai menata hidupnya ke depan. Penyesalannya akan masa lalu dan kemauan kerasnya untuk berubah adalah cara Merah untuk bounce back dari rantai kesulitan yang dihadapinya.Sebagai teman, aku selalu menginginkan yang terbaik baginya. Meski terkadang kami berbenturan persoal pandangan, tetap saja kami saling menguatkan dan saling belajar satu sama lain.Pun saling meyakinkan bahwa manusia terlahir untuk berjuang atas dasar kecintaan pada dirinya yang berharga dalam anugerah kelahiran dari Tuhan ini.


Diluar sana mungkin ada lebih banyak cerita Merah-Merah yang lain. Dan benang merah dari berbagai cerita itu mengajarkan bahwa dari segala persoalan yang ada, kita dididik menjadi seorang pejuang yang mampu bertahan dalam keadaan tertekan dan bahkan berhadapan dengan kesengsaraan atau kejadian traumatis dalam kehidupan.
Seberapa besar kita mencintai diri kita akan tergambar dalam kemampuan kita menghadapi, mengatasi dan menjadi kuat atas masalah yang ada di depan. 
Bagaimana kita bisa percaya pada diri kita bahwa kita mampu melewati keadaan sulit yang ada. Kita beri kepercayaan seluas-luanya pada diri kita untuk tidak merasa terbebani dan memandang negatif setiap kesulitan.

Dengan begitu kita akan belajar bagaimana bersahabat dengan keadaan yang sukar, bounce back dan bangkit dari kesedihan. Lalu keluar dari kubang permasalahan dengan jiwa yang kian terkuatkan. Mengantongi hikmah dan selalu mengupayakan diri menjadi manusia yang jauh lebih berharga atas setiap masalah yang Tuhan percayakan kepada kita di waktu yang akan datang.



Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Membaca

Aku Belum Hidup

Menyoal Kita yang Berbeda