1: Mengecup Kepedihan Hati Orang-orang di Sekitar
| Dok. Pribadi |
Lisan kita terlalu rentan mencipta kesalahan.Karena memang ia tercipta hanya untuk merasa di setiap permukaan saja. Jika boleh berandai, tak hanya rasa asin, manis, asam, atau pahit saja yang bisa terecap, kontrol kesalahan dari pengucapan kita yang dengan atau tanpa kita sadari berpotensi melukai atau barang kali membuka lagi luka orang-orang di sekitar kita, akan berjalan baik, bila saja ada bagian dari papila lidah yang mampu menerjemahkan ucapan-ucapan kita yang mungkin saja salah terserap oleh indera fisik atau psikis orang lain. Jauh dari pendeknya sumbu pemikiranku, tumpulnya pengetahuanku, aku sadar Tuhan telah menciptakan manusia sebaik-baik bentuk dan adanya. Dibalik lidah kita yang licin, ada hati yang tercipta untuk menakar kesemuanya.
Sungguh bijak mengenai bunyian "lidah tak bertulang", menjadi pengingat sepanjang masa. Bahwa lidah adalah pedang yang paling tajam untuk dapat melukai siapa saja, mengingatkan pula bahwa di sepanjang masa bunyian itu masih ada, masih tersisa banyak pula hati yang terluka karena lisan manusia. Diri kita adalah rumah dari kesalahan, tentu saja. Tidak ada manusia yang luput dari cidera dosa. Tapi tidak ada satu pun dari kita yang kehilangan kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi.
Berangkatkan ucapan dari hati. Biarkan lidah mengecap kata dari perasaan. Kalau sudah sampai disana, hmm.. perihal luka-melukai bukankah itu juga ilmu pasti, siapa yang menanam akan tiba pula ia menuai. Mengusahakan ucapan yang bagus, setidaknya akan mengecilkan satu sumber dosa dari jutaan sumber lain yang menunggu haluan bijak seperti apa yang kita ambil, kala kita menghadapi masing-masing soal hidup yang ada di depan nanti.
bagus tulisannya
ReplyDelete