Bukan Salah Menjadi Wanita
![]() |
| Bukan Salah Menjadi Wanita |
Sebab wanita itu
bukan lambang kelemahan, bukan lambang tipisnya perasaan. Mereka tahu kapan
harus menurut dan menuntut.
Aku, juga
korban-korban meme lain, iya-iya saja jika dengar ungkapan hits sepanjang masa,
“perempuan dengan perasaan dan lelaki dengan logikanya”. Setidaknya, sampai aku
tahu galon dan tabung LPG tak akan pindah sendiri jika hanya dipandangi. Wkwk,
maksudku pasti ada korelasi tentang kelebihan kekuatan fisik lelaki dengan
konteks yang dibentuk meme tadi. Yang kebanyakan isinya mengenai tuntutan
sepihak: wanita perlu kasih sayang, perhatian, pengertian, perlakuan dan
hal-hal yang semuanya serba lembut penuh perasaan tapi justru mencerminkan
kerapuhan dengan gamblang.
Lelaki yang sungkan melihat wanita mengangkat galon sendirian, lalu si wanita yang bertubi-tubi berterima kasih merasa diringankan, nyatanya hal serupa itu terus terjadi membentuk rantai kebiasaan dan dibesar-disebarkan.
Sebab apa
laki-laki tanggap mengusung galon? Jelas bukan karena si wanita yang tidak bisa
melakukannya sendiri kan?
Persis balada “Antara Kamu, Aku dan Galon”- ‘logika’ bertemu dengan ‘kepekaannya’ dan ‘terbantu’ bertemu dengan ‘persaaan’, dipupuk di dalam hubungan sosial antara wanita -laki-laki.
Kalaupun ada
penelitian yang meng-iyai, penciptaan kaum hawa kodratnya memang dibedakan
dengan kaum adam, dan sah-sah saja menjadikan mereka ‘banyak’ melibatkan rasa
ketimbang logika, yaa kan karena memang sudah dari sananya begitchu,
mungkin akan ada jawaban meyakinkan
untuk tidak menyalahkan meme meme itu. Plus, tidak perlu ragu menyimpulkan,
legenda meme itu terjadi bukan karena pola yang dibentuk dua jenis manusia itu
sendiri.
Dan ciwi-ciwi yang memanfaatkan penilaian ‘lemah’ mergo pingin galone diusungne, lanjutkan!
(lanjutkan dengan
taubatan nasuha)

bagus tulisannya
ReplyDelete